

Lagi pula, sekarang dia punya utang 40 ribu gabak dan harus segera menjual gula agar bisa bayar utang. Namun, dai malah bertindak seolah-olah tidak mau menjualnya. Sementara Hendra, dia jelas-jelas sangat menginginkan gula ini, tetapi malah berpura-pura tidak menginginkannya.
Mereka berdua sama liciknya!
Setelah mendengar ucapan Wira, Sony buru-buru maju dan menutup kotak cendana. Kemudian, dia mengangkat kotak itu dan bersiap-siap untuk pergi.
Sebelum datang, Wira sudah berpesan kepada mereka untuk langsung mengikuti apa pun perintahnya.
"Hais, Wira, aku toh nggak bilang nggak mau!" Hendra langsung menahan Wira dan berkata, "Aku bakal beli gula kristal ini 1.000 gabak per setengah kilo."
Keluarga Wibowo juga menjual gula. Jika mereka mendapatkan gula kristal ini, bisnis mereka pasti menjadi jauh lebih baik dari pada bisnis keluarga Sutedja.
Setelah mendengar ucapan Hendra, Lestari mendengus dalam hati. Tadi, dia yang mengestimasikan harga itu. Ternyata gula ini memang bisa terjual dengan harga setinggi itu!
"Seribu gabak?" Wira melirik Hendra dengan tatapan merendahkan, lalu berkata dengan cemberut, "Minggir!"
"Wira, aku salah! Gimana kalau 1.500 gabak? Nggak ... Gimana kalau ... 2.500 gabak?"
Hendra tersenyum sambil menaikkan harga. Saat melihat Wira masih tidak memedulikannya dan hendak pergi, dia pun berseru, "Baik, Wira. Aku nggak bakal dapat keuntungan. Anggap saja kita berteman, aku kasih 3.000 gabak per setengah kilo."
Lestari memandang kejadian ini dengan gugup. Dia berharap Wira langsung setuju karena 3.000 gabak sudah lebih tinggi tiga kali dari perkiraannya.
Danu dan Sony juga sedikit lemas setelah mendengar harganya.
Meskipun penduduk desa bercocok tanam dengan susah payah selama setahun, mereka juga tidak mungkin bisa menghasilkan 3.000 gabak. Namun, gula putih yang dihasilkan Wira ini malah bisa dijual 3.000 gabak per setengah kilogram.
"Aku nggak layak berteman sama Pak Hendra. Aku pamit dulu!" Wira tersenyum dingin, lalu lanjut berjalan keluar.
"Wira, gimanapun juga, ini cuman makanan. Harga 3.000 gabak sudah sangat tinggi! Baiklah, aku nggak masalah rugi dikit. Gimana kalau 4.000 gabak?"
Hendra menaikkan harga lagi. Namun, saat melihat Wira yang tetap tidak menghiraukannya, dia pun berkata dengan kesal, "Wira, gimana kalau 5.000 gabak? Ini harga tertinggi yang bisa kukasih. Kalau kamu masih nggak setuju, pergi saja ke Toko Gula Keluarga Wibowo. Lihat berapa harga yang bisa mereka kasih!"
Lestari, Danu dan Sony sudah tercengang. Kali ini, Wira juga menghentikan langkahnya.
Hendra mengira Wira sudah setuju. Dia pun mengeluh, "Wira, meski gula kristal memang langka, gimanapun juga itu cuman makanan. Harga 5.000 gabak sudah sangat tinggi."
Namun, Wira malah mencibir, "Pak Hendra, kukira kamu itu pedagang paling berwawasan di Kabupaten Uswal. Tapi setelah dengar kata-katamu itu, sepertinya aku sudah salah!"
Hendra menghela nafas, "Wira, aku tahu kamu masih pengin harga yang lebih tinggi. Tapi gimanapun juga, itu cuman gula. Memangnya bisa dijual seberapa mahal? Bahkan pemimpin kabupaten juga belum tentu sanggup makan gula yang harganya 5.000 gabak per setengah kilo!"
Lestari menatap Wira dengan cemas. Dia benar-benar ingin mewakili Wira untuk setuju.
Namun, Wira mencibir lai, "Pak Hendra, siapa yang bilang kalau gula kristal ini untuk dimakan?"
Hendra pun kebingungan, "Wira, memangnya gula bisa digunakan untuk apa lagi selain dimakan?"
Lestari, Danu dan Sony juga terkejut dan mempunyai pertanyaan yang sama.
Wira berkata sambil tersenyum sinis, "Ini adalah pertama kalinya gula kristal muncul di Kerajaan Nuala, entah kapan baru bakal muncul lagi. Gula kristalnya cuman begitu sedikit, memangnya pemimpin kabupaten masih bisa mendapatkannya? Pejabat kelas rendah yang dapat gula kristal ini mana mungkin memakannya. Nggak peduli siapapun yang mendapatkannya, mereka bakal menghadiahkannya untuk atasan mereka. Orang yang menerima hadiah ini bakal mengingat orang yang menghadiahkannya. Sebab, ini adalah barang langka yang belum ada sebelumnya. Aku sudah begitu terus terang, apa Pak Hendra masih mau pura-pura bodoh?"
Wira tidak percaya pedagang berpengalaman ini tidak mengetahui seberapa berharganya barang langka seperti gula putih.
Setelah maksud hatinya dibongkar Wira, Hendra pun berkata sambil tersenyum, "Aku benar-benar nggak pura-pura bodoh. Tapi, aku benar-benar nggak tahu cara jualnya tadi. Berhubung kamu sudah menjelaskannya, aku sudah tersadar. Aku nggak buka harga lagi deh. Kamu saja yang bilang mau jual berapa!"
Wira langsung berkata dengan lugas, "Setengah kilo 30 ribu gabak!"
Lestari, Sony dan Danu langsung tercengang.
"Sepakat!" Hendra menyetujuinya tanpa ragu. Kemudian, dia langsung pergi mengambil uangnya.
Setelah Hendra pergi, Wira pun menghela napas. "Haish, garga yang kubuka masih terlalu rendah!"
Setelah mendengar upacara Wira, Lestarri sangat ingin langsung memaki kakak sepupunya itu. Jelas-jelas Wira sudah untuk banyak, tetapi dia masih mengeluh.
Tidak lama kemudian, Hendra turun dengan membawa sebuah kotak kecil. Kotak itu berisi batang emas dan perak yang totalnya 600 ribu gabak.
Begitu melihat uang itu, Lestari langsung melongo, sedangkan Sony langsung lemas dan Danu menahan napasnya.
Sony dan Danu belum pernah melihat koin emas dan perak. Biasanya mereka hanya menggunakan koin perunggu.
Begitu melihat reaksi ketida orang itu, Hendra langsung menoleh ke arah Wira.
Wajar saja kalau para pelayan tidak pernah melihat uang sebanyak ini. Namun, akan aneh apabila tuang mereka juga mempunyai reaksi yang sama.
Bersambung ...
0 Komentar