Comments

3-comments

FOLLOW ME

LATEST

3-latest-65px

Archive

Latest video-course

1-tag:Videos-800px-video

Comments

3-comments

Campus

4-tag:Campus-500px-mosaic

About

This just a demo text widget, you can use it to create an about text, for example.

Testimonials

3-tag:Testimonials-250px-testimonial

Header Background

Header Background
Header Background Image. Ideal width 1600px with.

Logo

Logo
Logo Image. Ideal width 300px.

Section Background

Section Background
Background image. Ideal width 1600px with.

Section Background

Section Background
Background image. Ideal width 1600px with.

Ads block

Banner 728x90px

About

This just a demo text widget, you can use it to create an about text, for example.

Courses

6-latest-350px-course

Section Background

Section Background

Search This Blog

Categories

Campus

4-tag:Campus-500px-mosaic

FOLLOW ME

SEARCH

Latest courses

3-tag:Courses-65px

Latest video-course

1-tag:Videos-800px-video

Testimonials

3-tag:Testimonials-250px-testimonial

Ads block

Banner 728x90px

Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius BAB 28

 
Doddy awalnya masih belum bereaksi. Namun, dia langsung menatap ke arah Wira dengan serius begitu dipukul oleh Danu. Doddy pun berkata, "Ya, ya. Hanya satu pencuri!"

"Ya. Tiap orang pasti punya ingatan yang buruk. Syukurlah kalau ingat," ujar Jamadi sambil diam-diam mengambil uang itu. Kemudian, dia melanjutkan, "Pencurinya ada satu, tapi kita lebih tangkap dua orang. Tuan Wira, apa kamu mau melepaskan mereka?"

Wira memandang ketiga bersaudara itu, lalu berkata, "Kalian bertiga, pilih sendiri siapa diantara kalian yang akan masuk penjara dan siapa yang akan tinggal untuk mengurus keluarga!"

Tiga bersaudara itu terkejut sejenak, lalu mulai berebut mau masuk penjara.

"Aku adalah yang tertua, aku akan masuk penjara. Kalian berdua, tolong jaga keluarga kita baik-baik!" ujar Gandi.

"Kak, Gandi aku saja yang pergi. Aku sudah terluka dan hidupku nggak lama lagi. Biarkan aku saja yang masuk penjara," celetuk Ganjar.

"Kak Gabin, Ganjar, aku saja yang pergi. Ada bukti sobekan bajuku waktu bahuku tercakar," sahut Gandi.

"Sudahlah!' ucap Wira sambil melambaikan tangannya. Dia berkata, "Gandi saja yang masuk penjara. Ada bukti robekan bajunya dan bahunya terluka. Akan mudah memberi penjelasan di pengadilan daerah."

Jamadi pun melirik pengikutnya dan dua pasukannya segera melangkah maju untuk melepaskan belenggu Gavin dan Ganjar.

Di sisi lain, tiga bersaudara itu memandang Wira dengan ekspresi yang rumit.

Wira yang tidak memasang ekspresi apa pun berkata, "Sekarang, beri tahu aku siapa informan itu!"

Namun, ketiga bersaudara tampak ragu-ragu.

"Cepat katakan! Tunggu apa lagi? Apa kalian mau Tuan Wira menjebloskan kalian semua ke penjara?"

Ibu dan ketiga menantunya tampak cemas. Wira telah mengeluarkan 2.000 gabak. Jika ketiga putranya tidak mau memberi tahu, takutnya mereka akan dibelenggu lagi.

Gavin, kakak tertua, menunduk dan berkata, "Mereka adalah Lianam dan Liteja!"

Sorot mata Wira pun menjadi muram. Dia bertanya, "Apakah mereka ada bilang siapa yang menyuruh mereka datang?"

Lianam dan Liteja, mereka adalah dua dari empat asisten Budi kemarin.

"Nggak ada. Mereka hanya bilang kalau kamu kaya dan banyak uang. Kalau kami mendapatkannya, kami harus membagi uangnya dengan mereka!" jawab Gavin sambil menunduk kepalanya. Entah mengapa sorot mata Wira membuatnya takut.

"Bawa Ganjar bergi berobat. Kalau sudah nggak sanggup lagi, pergilah ke kediamanku dan cari aku. Aku akan melupakan kejadian hari ini. Nanti, aku akan mengeluarkan uang di pengadilan daerah untuk mengurangi penderitaan Gandi!"

Wira kembali mengeluarkan 2.000 gabak dan meletakkannya di tangan Gavin. Setelah itu, dia berbalik dan pergi.

Tiga bersaudara ini tercengang. Wira telah mengetahui siapa informan itu dan masih memberi mereka uang?

Jika ditotalkan, Wira telah mengeluarkan 4.000 gabak untuk mereka. Hal seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya. Mana ada korban membantu pencuri? Bahkan, memberi uang kepada pencuri untuk berobat!

Wajar jika tiga bersaudara ini tercengang.

"Kalian bertiga benar-benar bajingan. Beraninya kalian mencuri dari orang sebaik ini!" teriak Ibunya Gavin.

Ibunya Gavin beserta ketiga menantunya terkejut, lalu terus bersujud ke arah punggung Wira. Gavin, Gandi dan Ganjar juga menangis sembari bersujud ke tanah berkali-kali.

Di sisi lain, Jamadi beserta pengikutnya memandang punggung Wira seakan-akan sedang melihat orang bodoh. Apa otak bocah ini rusak?

Pencuri sudah tertangkap. Namun, Wira tidak hanya mengeluarkan uang untuk melepaskan pencuri-pencuri itu, dia juga memberi uang kepada mereka untuk berobat. Bukankah ini sama saja dengan membuat pencuri ingin merampok rumahnya?

Salah! Masih ada satu yang tidak dilepaskan.

Di sisi lain, Danu, Doddy dan Sony mengehal napas. Mereka menganggap bahwa Kak Wira ini terlalu baik.

Akhirnya, sekelompok orang membawa Gandi pergi ke tempat Budi untuk menangkap Lianam dan Liteja.

Ketika di perjalanan, Jamadi menyipitkan matanya dan berkata, "Wira, menangkap Lianam dan Liteja bukanlah tujuanmu. Tujuanmu yang sebenarnya adalah Budi, bukan?"

Wira pun tertawa, lalu berujar, "Bagaimana mungkin?"

"Kenapa nggak?"

Jamadi berkata dengan suara yang tinggi, "Lianam dan Liteja adalah anak buah Budi. Kamu sudah memukul Budi kemarin. Lalu, Lianam dan Liteja memberi tahu ke Gavin bersaudara malamnya. Sudah pasti Budi yang menginstruksikan mereka."

"Tuan Jamadi, Anda sangat akurat!"

Wira yang kagung memberi hormat, lalu berujar, "Karena kamu sudah menemukan dalangnya, ayo, kita tangkap dia!"

Danu, Doddy dan Sony langsung bergidik. Ketiganya tidak menyangka bahwa tujuan Wira mencari Jamadi hari ini sebenarnya untuk menjatuhkan Budi.

"Jangan bicara hal-hal nggak berguna ini. Menjatuhkan Budi bukan hal sepele. "Jamadi berkata dengan ekspresi tak berdaya, "Kami ini sama-sama pejabat pemerintah. Apa yang akan dipikirkan oleh rekan-rekanku nanti? Bagaimana aku bisa hidup di masa depan nanti?"

"Aku mengambil 2.000 gabak hanya untuk menangkap pencuri, bukan untuk menjatuhkan seorang kepala desa. Aku benar-benar nggak bisa melakukannya!"

"Benar-benar nggak bisa?" Wira memastikan.

"Ya!" Sahut Jamadi dengan tegas.

"Aku akan tambahkan uangnya!" tawar Wira.

"Hehe, ini bukan masalah uang, Aku, Jamadi, adil dan berintegritas. Aku menegakkan hukum dan nggak berpihak. Aku nggak akan menyalahkan orang baik atau membebaskan orang jahat! Kamu mau tambah berapa banyak?"

Bersambung ...

Posting Komentar

0 Komentar